Berkualitas, Berkuantitas dan Terpercaya!

Minggu, 16 April 2017

Mohon Tunggu

Ini Dia 7 Jembatan Tertua di Indonesia

Jembatan? Kamu pasti sudah tidak asing lagi mendengarnya, mungkin kamu tiap hari melewati jembatan untuk ke sekolah ataupun bekerja, ya jembatan adalah sebuah struktur yang fungsinya untuk menyeberangi sungai, jurang, rel kereta, jalan raya dan masih banyak lagi. Keberadaan jembatan sangat penting bagi kehidupan kita sehari-hari, banyak daerah yang terisolir jika jembatan yang digunakan untuk akses ke tempat tersebut putus atau roboh baik karena bencana alam atau gagal konstruksi, kamu tau 5 jembatan tertua di indonesia? kalau belum tau baca artikel ini sampai habis!
Jembatan Kelok 9

Jembatan Layang Kelok Sembilan dengan View Gunung Sago -didik herwanto-riaupos

Pembuatannya dilakukan antara tahun 1908 sampai 1914 oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu. Lebarnya mencapai 300 meter dan memiliki lebar 5 meter. Hebatnya lagi jembatan ini berada di atas ketinggian 80 meter. Letaknya sendiri berada di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat dan akan menuju provinsi Riau jika akan melewati jembatan ini.
Penamaan kelok 9 dikarenakan jembatan ini berkelok layaknya angka sembilan. Karena letaknya yang berada di antara dua bukit, membuat jembatan ini adalah jembatan tercantik namun paling menakutkan yang ada di Indonesia. Bahkan sudah berumur 108 tahun dari masa awal pembuatannya.
Jembatan Merah
Belum diketahui secara rinci tahun berapakah jembatan merah mulai dibangun. Namun salah satu sumber mengatakan pembuatannya kira-kira sekitar tahun 1880an pada zaman VOC menguasai kota Surabaya. Jembatan bersejarah ini berada di Surabaya, Jawa Timur bahkan menjadi salah satu judul lagu ‘Gesang’.
Pada tahun 1890an, jembatan ini mulai direnovasi, dari awalnya pagar pembatasnya berupa kayu, saat itu diubah menjadi besi agar lebih kuat. Fungsi awal jembatan penghubung Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun adalah alat penghubung antar masyarakat untuk berniaga. Bahkan menjadi pusat perniagaan di Kota Surabaya.
Jembatan Parhitean
Dikatakan bahwa jembatan ini adalah jembatan tertua di Sumatera Utara karena telah dibangun sejak 1936 dan selesai pada 1949. Namun acara peresmiannya baru dilakukan setahun setelah itu yakni pada 1950 oleh wakil Presiden Soekarno, Muhammad Hatta bersama dengan TM Hassan (Gubernur Sumatera).
Jembatan bersejarah ini sangat penting bagi warga, mengingat tidak ada jalur lain selain menggunakan jembatan ini untuk menyebrang. Apalagi dibawahnya terdapat sungai Asahan yang memiliki arus deras. Walaupun begitu, sekarang bangunan ini masih tetap kokoh apalagi pagarnya dibuat menggunakan cor beton.
Letaknya sendiri berada di Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Asahan. Bangunan ini kini menjadi alat penghubung desa Parhitean, Kecamatan Meranti Timur dengan Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan. Sekali-kali jembatan ini bisa kalian kunjungi untuk melihat indahnya alam di sekitarnya atau melakukan arum jeram di sungai Asahan.
Jembatan Kediri
Jembatan ini berada di atas sungai Brantas Kota Kediri yang telah tegak berdiri selama 148 tahun. Peresmiannya adalah pada tanggal 18 Maret 1869 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan menjadikannya sebagai jembatan jalan raya atau istilahnya saat itu Groote Postweg. Sehingga dikatakan bahwa jembatan besi ini adalah yang pertama di Pulau Jawa.
Menurut data dari buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek yang didapatkan langsung dari Belanda, Insinyur pembuatan jembatan ini adalah Sytze Westerbaan Muurling. Pada masa itu, jembatan ini sangatlah penting bagi masyarakat. Mengingat hanya jembatan inilah yang menghubungkan kota barat dengan timur Kediri plus kota Madiun dengan Surabaya.
Karena terdapat jembatan baru di sampingnya, maka nama jembatan kediri kini lebih terkenal dengan jembatan lama kediri untuk membeeakan yang ada di sampingnya.
Jembatan Singkarang (Lolong)
Di desa Lolong, Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah terdapat jembatan yang dibangun pada zaman kolonial Belanda. Jembatan itu adalah Jembatan Singkarang yang sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Bentuknya juga unik, yakni melengkung dengan total panjangnya mencapai 40 meter dan lebar 3 meter.
Jembatan yang berada di atas sungai Singkarang ini bahkan berada di atas ketinggian 50 meter dari permukaan sungai yang membuatnya tampak indah. Apalagi di sekelilingnya terdapat hutan yang masih asri dan sungai yang selalu jernih saat kemarau. Usia sudah tua yakni sekitar 105 tahun karena dibuat pada tahun 1912 oleh Belanda.
Namun pembangunannya menyimpan sejuta musibah bagi masyarakat sekitar. Bagaimana tidak, pada masa pembuatannya warga harus membuatnya dengan kerja paksa. Jika tidak bisa-bisa mereka dibunuh. Bahkan kepala desa saat itu, Madrawi ditembak mati agar orang-orang takut dan bersedia membangunnya.
Jembatan Panus
Di kawasan Jabodetabek tepatnya di Depok terdapat jembatan peninggalan Kolonial Belanda. Pembangunannya dirancang oleh Stefanus Leander saat tahun 1917 dan dalam waktu satu tahun telah diselesaikan dan siap untuk dioperasikan. Kalai itu jembatan ini menjadi area untuk mengakses rute antara Depok dan Bogor, begitu pula dengan Jakarta.
Selain sebagai alat penghubung antar daerah, jembatan ini juga difungsikan menjadi alat pemantau debit air dari sungai yang ada di bawahnya yakni Sungai Ciliwung. Hal ini dapat dilihat dari tanda yang ada di salah satu penyangganya yang memiliki ukuran untuk melihat tinggi rendahnya air yang mengalir.
Namun karena telah dibuat jembatan bayangan di sampingnya maka membuat jembatan Panus jarang dilewati oleh pengendara. Jembatan baru itu diresmikan tahun 1990 dan kini jembatan Panus dijadikan sebagai Tempat wisata karena memiliki sejarah.
Jembatan Petekan
Salah satu jembatan angkat tertua di Indonesia ternyata ada di Surabaya, Jembatan Petekan adalah namanya. Dibuat mulai tahun 1990-an oleh V Braat and Co. Awalnya bentuknya adalah jembatan angkat karena saat itu sungai Kalimas yang ada di bawahnya menjadi salah satu jalur transportasi kapal yang ada di daerah Surabaya, Madura, bahkan Jawa Timur. Jadi saat ada kapal lewat, jembatan akan diangkat agar kapal bisa melintasinya.
Nama aslin dari jembatan ini sebenarnya adalah Ophaalbrug, namun masyarakat menamainya dengan Petekan. Pengambilan nama itu karena bahasa Indonesia dari ‘tekan’ adalah ‘petek’. Mengingat jembatan ini harus terlebih dahulu ditekan tombolnya agar jembatan bisa naik, maka orang-orang familiar menyebutnya dengan petekan.
Namun sekarang jembatan ini sudah tidak lagi difungsikan sebagai jembatan angkat karena sudah tidak ada lagi kapal besar yang melintas. Sungai kalimas yang dulu digunakan kapal besar kini sudah mengalami pendangkalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts